Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
NasionalPendidikan

Biarkan Mereka Bertanya: Cerita di Balik Penerapan “Deep Learning” Usia Dini

50
×

Biarkan Mereka Bertanya: Cerita di Balik Penerapan “Deep Learning” Usia Dini

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BANDUNG – Di ruang-ruang kelas Taman Kanak-Kanak, sebuah perubahan cara pandang sedang berlangsung. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai mengimplementasikan pembelajaran mendalam (deep learning) yang menempatkan anak-anak sebagai subjek utama, bukan sekadar penerima informasi pasif. Pendekatan ini dirancang untuk merawat rasa ingin tahu alami anak agar mereka dapat membangun pemahamannya sendiri.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan bahwa dalam pendekatan ini, guru memposisikan diri sebagai fasilitator.

Example 300x600

“Dengan deep learning, kita ingin menciptakan lingkungan di mana siswa lebih aktif dalam membangun pemahamannya sendiri, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing mereka dalam menemukan jawaban,” ujarnya, dalam keterangan resmi Kemendikdasmen, Kamis (23/7/2026).

Pendekatan ini dirasakan betul dampaknya di lapangan. Di TK Gagas Ceria, Bandung, Kepala Sekolah Catur Wulandari melihat betapa pentingnya menjaga ruang bagi anak-anak untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Menurutnya, setiap anak memiliki dorongan alami untuk mencari tahu yang tidak boleh dipadamkan oleh jawaban instan dari orang dewasa.

“Guru lebih banyak mengajak anak mengamati, bertanya, mencoba berbagai kemungkinan, berdiskusi, dan merefleksikan pengalaman mereka daripada memberikan jawaban,” kata Catur.

Bagi Catur dan para guru di sekolahnya, keberhasilan seorang anak tidak diukur dari nilai akhir, melainkan dari proses emosional dan sosial yang mereka rasakan selama belajar.

Indikator bermakna tersebut terlihat jelas ketika anak menunjukkan keberanian mencoba, antusiasme bekerja sama, kemandirian, hingga kegembiraan murni saat mereka berhasil mengekspresikan gagasan mereka sendiri. Melalui pembelajaran berbasis proyek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, anak-anak diajak untuk merasakan sendiri proses memecahkan masalah, mulai dari mengamati hingga menghasilkan karya nyata sesuai tahap perkembangan mereka.

Proyek Dunia Reptil

Pendekatan serupa menghidupkan ruang kelas dilakukan juga di TK Bunda Ganesha. Kepala Sekolah Susi Hindayani menjelaskan bagaimana para guru berupaya merangsang cara berpikir yang lebih mendalam melalui penataan lingkungan belajar dan lemparan pertanyaan pemantik.

Salah satu momen yang paling berkesan bagi anak-anak adalah ketika mereka terlibat dalam proyek “Dunia Reptil”. Alih-alih mendengarkan penjelasan satu arah dari guru, anak-anak diajak langsung mengamati bentuk fisik reptil, berdiskusi mengenai habitat alaminya, hingga memikirkan bagaimana cara merawat makhluk hidup dengan penuh tanggung jawab.

Puncak dari proses belajar ini adalah ketika anak-anak secara berkelompok merancang dan membuat sebuah diorama bersama.

“Melalui kegiatan ini, anak belajar berbagi, berkolaborasi, mengambil keputusan, mengembangkan kemampuan visual-spasial, sekaligus menumbuhkan empati terhadap makhluk hidup dan rasa bangga atas karya yang mereka hasilkan,” tutur Susi.

Semangat menghadirkan pembelajaran yang bermakna ini tidak berhenti di dalam pagar sekolah masing-masing. Baik TK Gagas Ceria maupun TK Bunda Ganesha menyadari bahwa perubahan mutu pendidikan memerlukan kerja sama yang erat antarpendidik.

Kedua sekolah ini aktif membagikan pengalaman, tantangan, dan praktik baik mereka melalui kunjungan belajar, lokakarya, pelatihan, hingga komunitas profesi. Bagi mereka, studi tiru dan ruang berbagi antarsekolah adalah jembatan penting agar gelombang pembelajaran mendalam ini dapat dirasakan lebih luas oleh anak-anak di berbagai penjuru. (*/im)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *